COVID19 Masuk Kampung

Gerakan bersama, pedulian bersama, gotong royong bersama adalah naluri dasar akan budaya orang kampung yang selalu ada dan tidak akan pernah luntur dalam siatuasi apapun. Jaga jarak, jaga diri, jaga keluarga dan jaga Kampung.

0
91

KampungJagoan.com. Masih dengan COVID19 dan ini masih akan terus bertambah sampai kapan ?, sampai Indonesia dengan berani mendeklarasikan “INDONESIA BEBAS CORONA”, tapi kapan ?. Apakah wabah ini tidak bisa berhenti dan terus menjadi semakin panjang ?. Kesungguhan seperti apa yang diharapkan dari semua orang dalam memutus mata rantai dan mencegah penyebarannya. Apakah sebenarnya memang diri kita yang tidak kompak dan masih menganggap ini hal biasa ?.

Himbauan, anjuran hingga pemberlakuan PSBB di beberapa kota seperti Jakarta adalah salah satu keseriusan dalam memutus mata rantai penyebaran COVID19, pada prinsipnya virus ini tidak dapat bergerak kemana-mana, sayangnya manusia adalah media aktif bagi virus corona dan manusia menjadi pembawa corona ini menyebar, menular. Dilema untuk #dirumahsaja mulai berimbas pada berbagai aspek tidak hanya pada kesehatan dan keselamatan orang banyak tapi juga bisa menimbulkan persoalan sosial dan ekonomi.

Menjelang Ramadan dan efek #dirumahsaja yang pemberlakuannya diperpanjang, memicu banyak orang untuk akhirnya mengambil keputusan yang sulit antara #dirumahsaja, tidak bekerja dan tidak berpenghasilan terutama bagi pekerja harian, ini memaksa banyak orang untuk pulang kampung, alasannya sangat masuk akal tidak ada kerjaan bahkan ada yang hilang pekerjaan, inilah salah satu alasan yang memaksa orang akhirnya mengambil keputusan untuk pulang kampung.

Hari ini jumlah orang yang terkonfirmasi COVID19 berdasarkan data pantauan COVID19 sebanyak 3.842 kasus terkonfirmasi (angka akan berbeda karena data bergerak dari pantauan website kemendesa cek data di link ini), untuk jakarta positif covid19 : klik link ini. Terbayang bagaimana jika ada orang yang bisa saja terpapar atau karena minimnya alat atau media test secara dini dan masif sehingga sulit untuk mengetahui apakah orang terpapar atau tidak, kemudian pulang kampung, sampai dikampung ? di Kota Besar sekelas jakarta yang segala hal cukup : rumah sakit, tenaga medis, alat, obat dan sebaginya bisa dikatakan cukup saja tidak mampu membendung peningkatan jumlah penyebaran corona ini, negara sekelas Amerika hari ini adalah yang paling tertinggi jumlah orang yang terpapar, apa jadinya jika ini terjadi di Kampung ?

Ada beberapa protokol yang bisa diterapkan di kampung, berikut adalah dari rilis Desk Relawan Percepatan Penanganan COVID-19 Indonesia oleh BNPB antara lain :

Protokol Non Media, sumber : https://deskrelawanpb.bnpb.go.id/latihan/media/uploads/jwysiwyg/protokol%20non%20medis.png

BNPB mengakomodir penanggulangan bencana wabah ini dengan membentuk Relawan Percepatan Penanganan COVID-19 Indonesia, warga kampung atau siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap situasi ini dapat mendaftarkan diri dan bergabung di Relawan COVID19 link berikut ini

Gerakan bersama, pedulian bersama, gotong royong bersama adalah naluri dasar akan budaya orang kampung yang selalu ada dan tidak akan pernah luntur dalam siatuasi apapun. Jaga jarak, jaga diri, jaga keluarga dan jaga Kampung. [dv]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here